Berita Kampus

UIMandiri Global Insight Seri ke-2 Hadirkan Akademisi Hong Kong, Bahas Gerakan Perdamaian Ekologis

Humas UIMandiri
24 September 2026
UIMandiri Global Insight Seri ke-2 Hadirkan Akademisi Hong Kong, Bahas Gerakan Perdamaian Ekologis
UIMandiri Global Insight Seri ke-2 Hadirkan Akademisi Hong Kong, Bahas Gerakan Perdamaian Ekologis

Universitas Indonesia Mandiri (UIMandiri) kembali menghadirkan ruang dialog akademik bertaraf internasional melalui UIMandiri GLOBAL Insight – 2nd Series, dengan menghadirkan Prof. Lap Yan Kung dari The Chinese University of Hong Kong sebagai pembicara utama.

Kegiatan yang mengangkat tema “Toward an Ecological Peace Movement: A Post-Colonial Lens” tersebut berlangsung di Gedung Auditorium UIMandiri, Kamis (24/9/2026).

Acara tersebut dihadiri oleh langsung oleh Rektor Dr. Rustono Farady Marta, S.Sos., M.Med.Kom., Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Dr. Acum Wijaya, S.E., M.M., Wakil Rektor II Bidang Kemahasiswaan Veronica Mieke, S.Pd., M.Hum.,Direktur Riset, Inkubasi Bisnis, dan Kualitas Dr. Sigit Apriyanto, S.Pd., M.Pd. Direktur Pengembangan SDM, Ventura dan Kerjasama Gabriel Syama Riwu,S.H.,M.H, Provist Dr. Heri Sugiyanto, M.Si., Sekretaris Universitas Lastrie Arsya,S.Tr.,Gz.,M.Gz., para dekan fakultas, civitas akademika serta mahasiswa UIMandiri.

Rektor UIMandiri, Dr. Rustono Farady Marta, M.Med.Kom., mengatakan kehadiran Prof. Kung bukan sekadar menghadirkan perspektif akademik dari luar negeri, tetapi juga membuka jembatan intelektual antara Hong Kong dan Lampung Selatan.

Menurutnya, forum tersebut menjadi ruang pertemuan antara keilmuan global dengan pengalaman dan kearifan lokal.

“Tema perdamaian ekologis mengajak kita melihat ekologi secara lebih luas. Bukan hanya tentang hutan, sungai, atau konservasi, tetapi juga tentang bagaimana manusia memandang dunia, saling berhubungan, mengonsumsi, berproduksi, dan memaknai kemajuan,” ujar Rustono.

Dalam forum tersebut, diperkenalkan tiga konsep utama, yakni Aesthetic Literacy, Kenotic Capital, dan Lifestyle Politics. Ketiganya menjadi bahan refleksi mengenai bagaimana manusia menentukan cara melihat, menjalani kehidupan, berbagi, sekaligus merawat dunia yang ditempatinya.

Rektor juga mengaitkan pembahasan tersebut dengan semangat UIMandiri GLOBAL, yang terdiri dari Gratitude, Locality, Outreach, Bravery, Adaptability, dan Literacy.

Ia menegaskan, menjadi Global Ready bukan berarti meninggalkan identitas lokal. Sebaliknya, mahasiswa didorong untuk memahami lokalitas dan membawa kearifan lokal Lampung Selatan ke dalam percakapan global.

“Menjadi Global Ready bukan berarti meninggalkan identitas lokal, tetapi mampu memahami lokalitas dan membawa kearifan lokal Lampung Selatan ke dalam percakapan global yang lebih luas,” katanya.

Lebih jauh, Rustono mengaitkan gagasan perdamaian ekologis dengan refleksi Dietrich Bonhoeffer mengenai tanggung jawab sosial. Menurutnya, perdamaian tidak cukup dimaknai sebagai ketiadaan konflik, tetapi juga harus hadir melalui keadilan, tanggung jawab, martabat, dan kepedulian.

Dalam konteks tersebut, perdamaian ekologis menuntut manusia untuk kembali melihat gaya hidup, praktik ekonomi, pilihan estetika, serta hubungan antarmanusia dan hubungan manusia dengan alam.

Universitas harus menjadi ruang di mana pengetahuan bertemu hati nurani, keilmuan bertemu masyarakat, dan gagasan bertemu aksi,” tegasnya.

Melalui UIMandiri GLOBAL Insight Seri ke-2, kampus tersebut berharap dialog antara keilmuan global dan kearifan lokal tidak berhenti sebagai diskusi akademik, tetapi dapat mendorong sivitas akademika untuk membangun cara pandang baru terhadap hubungan manusia, masyarakat, dan lingkungan.

Gagasan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya UIMandiri memperluas wawasan mahasiswa agar mampu membaca persoalan lokal dalam perspektif global, sekaligus membawa nilai-nilai lokal ke ruang percakapan internasional.

“Pendidikan tinggi yang berkualitas adalah investasi terbaik untuk masa depan generasi mendatang.”