Dekan FIKes UIMandiri Dr.dr Artha : Eliminasi TBC 2030 Bisa Dicapai, Kuncinya Kolaborasi Semua Pihak

Komitmen mempercepat eliminasi Tuberkulosis (TBC) di Indonesia terus diperkuat melalui sinergi lintas sektor. Salah satunya ditunjukkan dalam Musyawarah Besar (Mubes) I Inisiatif Lampung Sehat (ILS) dan diskusi publik kolaborasi lintas sektoral untuk eliminasi TBC menuju Indonesia Emas. yang menghadirkan Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKes) Universitas Indonesia Mandiri (UIMandiri), Dr. dr. H. Artha Budi Susila Duarsa, M.Kes, sebagai narasumber utama.
Kegiatan yang berlangsung di Aula PKK Kabupaten Lampung Selatan, Rabu (8/7/2026), dihadiri Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan, Devi Arminanto, S.KM., M.M., Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Lampung Selatan, Erdyansyah, S.H., M.H., jajaran Inisiatif Lampung Sehat (ILS), serta para peserta Mubes I. Jalannya diskusi dipandu moderator Pristi Wahyu Diawati, S.E.
Dalam paparannya bertajuk “Kolaborasi Perguruan Tinggi dalam Mendukung Eliminasi TBC”, Dr. Artha mengulas berbagai persoalan mendasar yang masih menjadi tantangan dalam penanggulangan TBC di Indonesia.
Menurutnya, tingginya angka kasus TBC tidak hanya dipengaruhi aspek kesehatan, tetapi juga faktor sosial, budaya, kemiskinan, rendahnya pengetahuan masyarakat, hingga stigma terhadap penderita.
“Eliminasi TBC pada tahun 2030 bukan sesuatu yang mustahil. Yang dibutuhkan adalah kesadaran bersama bahwa TBC bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga masalah sosial yang harus diselesaikan melalui kerja sama seluruh elemen masyarakat,” ujar Dr. Artha.
Ia menjelaskan, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mendukung program eliminasi TBC melalui pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat. Kampus juga dituntut mampu menghadirkan inovasi dan model pendekatan yang efektif dalam mengubah perilaku masyarakat agar lebih peduli terhadap pencegahan dan pengobatan TBC.
Menurutnya, berbagai regulasi dan program percepatan penanggulangan TBC yang telah dibentuk pemerintah, termasuk keberadaan Tim Percepatan Penanggulangan TBC dan Desa Siaga TBC, menjadi modal penting yang harus terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor.
“Permasalahan TBC jauh lebih kompleks dibandingkan kemampuan sistem kesehatan apabila bekerja sendiri. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, tenaga kesehatan, dunia usaha, media, hingga tokoh masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan eliminasi TBC,” katanya.
Dr. Artha juga menekankan pentingnya strategi komunikasi yang tepat dalam mendampingi pasien TBC. Menurutnya, pendekatan yang hanya mengandalkan tenaga kesehatan tidak lagi cukup. Dibutuhkan keterlibatan keluarga, kader kesehatan, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga komunitas agar pasien merasa didukung selama menjalani pengobatan.
“Komunikasi yang efektif harus menyentuh aspek sosial masyarakat. Ketika keluarga, tokoh masyarakat, dan lingkungan ikut memberikan dukungan, maka kepatuhan pasien menjalani pengobatan akan semakin baik,” jelasnya.
Ia menambahkan, stigma terhadap penderita TBC masih menjadi salah satu hambatan terbesar dalam upaya penanggulangan penyakit tersebut. Tidak sedikit masyarakat yang enggan memeriksakan diri atau menghentikan pengobatan karena takut dikucilkan.
“TBC adalah persoalan sosial. Selama kita belum memahami kondisi sosial masyarakat, sebanyak apa pun fasilitas kesehatan yang tersedia tidak akan mampu menyelesaikan persoalan ini secara optimal,” tegasnya.
Dalam sesi diskusi dan tanya jawab, Dr. Artha mengajak seluruh peserta untuk terus membangun optimisme dalam mewujudkan Indonesia bebas TBC pada 2030. Ia menilai target tersebut sangat mungkin dicapai apabila seluruh pemangku kepentingan mampu menjaga komitmen, memperkuat kolaborasi, dan terus menghadirkan inovasi dalam penanggulangan TBC.
“Yang terpenting bukan lagi mempertanyakan apakah target itu mungkin atau tidak, tetapi bagaimana kita bekerja bersama secara berkelanjutan. Kolaborasi adalah kunci untuk menghadirkan perubahan nyata dalam eliminasi TBC,” pungkasnya.
“Pendidikan tinggi yang berkualitas adalah investasi terbaik untuk masa depan generasi mendatang.”
Berita Lainnya
Lihat semua →
Executive Forum Lampung Post 2026
Executive Forum Lampung Post 2026

Honored and grateful to be a selected Delegate for the Media Training on Prevention of Mass Atrocities in the Context of Migration in ASEAN, held at Chulalongkorn University, Bangkok, Thailand
Honored and grateful to be a selected Delegate for the Media Training on Prevention of Mass Atrocities in the Context of Migration in…

Segenap Sivitas Akademika Universitas Indonesia Mandiri mengucapkan Selamat Ulang Tahun kepada Bapak Radityo Egi Pratama, S.T., MBA., Bupati Lampung Selatan
🎉 Segenap Sivitas Akademika Universitas Indonesia Mandiri mengucapkan Selamat Ulang Tahun kepada Bapak Radityo Egi Pratama, S.T., MBA…
